Senin, 23 Maret 2015

Reward lebih baik dari punishment


Pujian Lebih Baik Dari Pada Hukuman

“Emoh...emoh..emoh,saya mau duduk!”rengek seorang siswa kelas I sebut saja Adam sambil merebut kursi yang akan saya ambil sebagai konsekwensi  karena dia tidak tertib. Berjalan ke sana kemari di kelas tidak mengerjakan tugas. Akan halnya sikap Budi,siswa lain yang juga tidak tertib.Dia  tetap  membiarkan saya mengambil kursinya. Dia dengan ikhlas menjalankan sangsi yang saya terapkan .Harus menulis sambil berdiri. Melihat siswa yang sportif ini saya memberi pujian di hadapan semua siswa :”Anak – anak, Bu Guru bangga sama Budi, dia anak yang sportif. Dia melanggar tata tertib dan bersedia menerima sangsi”.
Beberapa menit setelah itu,tampak beberapa  anak, salah satunya Adam sengaja berjalan ke sana kemari  sambil memandang ke arah saya. Saya tahu maksud beberapa anak ini. Mereka berharap kursinya saya ambil dan  tidak akan protes agar mendapat pujian dari saya seperti  halnya  Budi. Akan tetapi saya tidak memuji mereka karena jika saya melakukannya tentu pujian yang tidak tepat.”Anak – anak Bu Guru senang anak yang sportif tetapi Bu Guru lebih senang  anak –anak yang tertib.Ayo...!kalian semua yang belum tertib! Segera duduk di kursi masing –masing.”perintah saya untuk mengakhiri tindakan Adam dan kawan –kawannya.
Disadari atau tidak selama ini kita lebih sering menunjukkan kesalahan atau kekurangan siswa  dari pada menunjukkan atau mengakui kelebihannya. Kita sering marah apabila suatu saat masuk kelas kondisi kelas ramai dan dengan segera memberi hukuman kepada siswa - siswa biang ramai. Tetapi kita kadang lupa untuk sekedar mengucapkan terimakasih atas sikap siswa - siswa kita yang tertib saat kita masuk kelas. Kita sering dibuat jengkel oleh ulah seorang siswa yang suka usil mengganggu atau memukul teman –temannya  dan kita menganggap hal yang biasa ketika anak tersebut mempunyai kelebihan .
            Pada waktu istirahat ada seorang siswa  sebut saja Fikri  meminta ijin saya  untuk makan  “nasi kucing” yang dibawanya dari rumah. Ketika dia mulai membuka bungkusan  mendadak beberapa temannya datang seraya berkata :”Aku minta….!,Aku minta…sambil langsung mengambil sesuap “nasi kucing” milik Fikri.Akan halnya Fikri sikapnya sungguh membuat saya terharu. Dia dengan ikhlas mempersilahkan teman –temanya ikut nimbrung makan padahal nasi yang dibawanya  dimakan sendiri saja tidak  membuat kenyang.
            Melihat kejadian itu saya memuji Fikri  yang didengar oleh semua teman sekelasnya akan sikapnya yang dermawan,tidak mementingkan diri sendiri yang bisa dijadikan contoh siswa yang lain.Kulihat sejenak wajah Fikri berbinar bahagia mendengar pujian saya. Beberapa hari yang lalu dia saya suruh  untuk meminta maaf kepada semua teman yang pernah dipukulnya.Saya berharap pujian saya akan meminimalisir sifat yang kurang baik pada Fikri.
Marilah kita berlaku adil pada siswa –siswa kita. Jika kejelekan mereka kita tunjukkan maka sebaliknya kelebihan mereka pun harus kita akui eksistensinya dengan menyebutnya.Tidak cukup hanya kita batin saja.  Alangkah lebih bijaksana apabila  melihat kelebihan siswa kita spontan memujinya tetapi bila siswa melakukan kesalahan  kita lebih berhati –hati untuk menghukumnya. Karena sejatinya pujian yang tepat lebih baik dari pada hukuman.